TAFSIR TEMATIK PMI
TENTANG FISIK ATAU MATERIAL
DISUSUN OLEH :
Wahyu Rizky Parmanda
13154042
Dosen Pengampu : H. Ali Akbar Simbolon
PENGEMBANGAN MASYARAKAT
ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
2015/2016
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Fisik
atau Material
Fisik adalah tubuh manusia yang kasat mata dan memiliki lima panca
indra. Psikis adalah jiwa manusia. Fisik dan psikis merupakan satu kesatuan
yang seharusnya diselaraskan dalam setiap fungsinya. Adapun material adalah
bahan-bahan pendukung bagi berlangsungnya kinerja fisik manusia.
B. At – Tin 95 : 4 (Makkiyah)
Artinya:
4. Sesungguhnya Kami
telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Maksud firman Allah (sungguh kami telah menciptakan
manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya) adalah sesuatu yang disumpahkan.
Allah SWT menciptakan manusia dalam rupa yang sangat baik dan dalam bentuk yang
sebaik-baiknya pula.
Adapun bukti nyata Allah
telah menciptakan manusia dengan kesempurnaan-Nya yaitu dengan adanya alat
pencernaan di dalam tubuh manusia, seperti dengan adanya air liur sebagai
sumber pertahanan pertama dan memperlancar masuknya makanan sehingga mudah
dicerna. Kemudian alat pernapasan yang dimana terdapat hidung yang diciptakan
untuk membersihkan dan menghangatkan udara yang kita hirup. Kemudian kerangka
tubuh manusia yang tidak hanya melindungi organ-organ utama di dalam tubuh
tetapi juga dengan kemampuan bergerak yang unggul. Kemudian kulit yang
merupakan organ penting terluar yang melindungi tubuh. Dan terakhir jantung,
adalah bagian terpenting pada system peredaran darah yang menghubungkan 100
triliun sel pada tubuh manusia satu demi satu.[1]
Kata خلقنا artinya Kami telah menciptakan. Allah sering kali menggunakan
kata Kami untuk menunjuk diri-Nya. Dari sisi lain, penggunaan kata Kami yang
menunjuk kepada Allah mengisyaratkan adanya keterlibatan selain-Nya dalam
penciptaan manusia. Dalam hal ini ibu bapak manusia. Ibu bapak mempunyai
peranan yang sangat berarti dalam penciptaan anak-anaknya, termasuk dalam
penyempurnaan keadaan fisik dan psikisnya. Para ilmuwan mengakui bahwa
keturunan dan pendidikan merupakan dua faktor yang sangat dominan dalam pembentukan
fisik dan kepribadian anak. Peranan yang lain itu sebagai pencipta sama sekali
tidak seperti Allah melainkan hanya sebagai alat atau perantara saja.
Adapun hadis yang berhubungan dengan proses penciptaan manusia yaitu:
Artinya: “Sesungguhnya penciptaan salah seorang di
antara kalian dihimpun di dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa air
mani, kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu sama, kemudian menjadi
segumpal daging juga dalam waktu yang sama. Setelah itu, malaikat diutus untuk
meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk mencatat empat perkara:
mencatat rezekinya, ajalnya, perbuatannya, dan celaka ataukah bahagia.” (HR.
Bukhori)
Hadits ini menyatakan bahwa penciptaan manusia itu
dihimpun di dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk air mani. Kemudian
selama 40 hari dalam bentuk segumpal darah, kemudian 40 hari dalam bentuk
segumpal daging. Lalu diutuslah malaikat yang akan meniupkan roh padanya. Hal
ini berlangsung dalam waktu 4 bulan atau 120 hari (40 hari x 3 fase).
C.
Al – Isra’ 17 : 70 (Makkiyah)
Artinya: 70. Dan sesungguhnya telah Kami muliakan
anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan[2], Kami beri mereka rezki
dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna
atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
Setelah menggambarkan
anugerah-Nya ketika berada di laut dan di darat, baik terhadap yang taat maupun
yang durhaka, ayat ini menjelaskan sebab anugerah itu, yakni karena manusia
adalah makhluk unik yang memiliki kehormatan dalam kedudukannya sebagai manusia
baik dia taat beragama maupun tidak. Dengan bersumpah sambil mengukuhkan
pernyataan-Nya, ayat ini menyatakan bahwa dan kami yakni Allah bersumpah bahwa
sesungguhnya telah kami muliakan anak cucu adam dengan bentuk tubuh yang bagus,
kemampuan berbicara dan berfikir serta berpengetahuan dan kami beri juga mereka
kebebasan memilah dan memilih dan kami angkut mereka didaratan dan dilautan
dengan aneka alat transport yang Kami ciptakan agar mereka dapat menjelajahi
bumi dan angkasa yang kesemuanya Kami ciptakan untuk mereka.
Dan Kami juga beri mereka
rezeki dari yang baik-baik sesuai dengan kebutuhan mereka lagi lezat dan
bermanfaat untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan jiwa mereka. Dan Kami
lebihkan mereka atas banyak makhluk dari siapa yang telah kami ciptakan dengan
kelebihan yang sempurna. Kami lebihkan mereka dari hewan dengan akal dan daya
cipta sehingga menjadi makhluk yang bertanggung jawab.[3]
Ayat ini merupakan salah satu
dasar menyangkut pandangan Islam tentang hak-hak asasi manusia. Manusia harus
dihormati hak-hak nya tanpa perbedaan. Semua memiliki hak hidup, hak berbicara
dan mengeluarkan pendapat, hak beragama hak memperoleh pekerjaan dan hak
berserikat. Hanya saja yang perlu dicatat bahwa hak-hak yang dimaksud adalah
anugerah Allah dan selalu berada dalam koridor tuntunan agama-Nya.
D.
An – Nuur 24 : 32 (Madaniyyah)
Artinya:
32. Dan nikahlah orang-orang yang sendirian[4] diantara kamu, dan
orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba
sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka
miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas
(pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
Adapun hadis yang berkaitan dengan ayat diatas adalah:
Dari Ibnu
Mas’ud, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Hai para pemuda, barangsiapa
diantara kamu yang sudah mampu menikah, maka nikahlah, karena sesungguhnya
nikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih dapat menjaga kemaluan.
Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena berpuasa
itu baginya (menjadi) pengekang syahwat.” [HR. Jama‘ah]
Dari ayat
dan hadis diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa seseorang yang sudah mampu
untuk berumahtangga, sangat dianjurkan untuk segera menikah. Hal ini bertujuan
agar seorang tersebut terhindar dari perbuatan zina. Jika mereka tidak memiliki
harta yang cukup untuk melaksanakan pernikahan, Allah akan memberikan petunjuk
dan karunia-Nya karena Allah maha memberi dan maha mengetahui.
E.
Al – Baqarah 2 : 247 (Madaniyyah)
Artinya:
247. Nabi mereka
mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut
menjadi rajamu." Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami,
padahal kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, sedang
diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata:
"Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang
luas dan tubuh (fisik) yang perkasa." Allah memberikan kerajaanya kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya
dan
lagi Maha Mengetahui.
Mereka mengenal
Thalut karena beliau seorang yang sangat menonjol tinggi badan nya, karena itu
ia dinamai “Thalut”, seakar dengan kata “Thawil” yang berarti p anjang atau
tinggi. Mereka menolaknya dengan alasan kami lebih berhak mengendalikan
pemerintahan dari pada dia. Ini mereka kemukakan karena Thalut bukan keturunan
bangsawan, sedangkan para pemuka masyarakat itu adalah bangsawan yang secara
turun temurun memerintah. Disisi lain, lanjut mereka sedang dia pun tidak
diberikan kelapangan dalam harta.
Keberatan mereka dibantah
oleh nabi mereka, bahwa Allah telah memilihnya atas kamu dan melebihkan
untuknya keluasan dalam ilmu serta keperkasaan dalam jasmani. Demikian lah sang
nabi mengukuhkan bahwa yang memilih adalah Allah yang maha mengetahui. Dari
ayat ini dipahami bahwa wewenang pemerintah bukanlah atas dasar keturunan
tetapi atas dasar pengetahuan dan kesehatan jasmani bahkan disini diisayaratkan
bahwa kekuasaan yang direstui-Nya yang bersumber dari-Nya, dalam arti adanya hubungan
baik antara penguasa dan Allah SWT. Disisi lain, ayat ini mengisyaratkan bahwa
bila anda ingin memilih, janganlah terperdaya oleh keturunan, kedudukan social
atau popularitas tetapi hendaknya atas dasar kepemilikan sifat-sifat dan
kualifikasi yang dapat menunjang tugas yang akan dibebankan kepada yang anda
pilih.[5]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Manusia memiliki derajat yang lebih tinggi di bandingkan dengan makhluk lain.
Allah memberikan akal dan pikiran kepada manusia. Ini lah yang membedakan
manusia dengan makhluk lainnya. Tujuan Allah memberikan akal dan fikiran itu
agar manusia berfikir dan menggunakan akal nya untuk melakukan kebaikan dijalan
Allah dan mengetahui mana yang baik mana yang mungkar.
Dari ke empat ayat diatas dapat disimpulkan bahwa Allah menciptakan
manusia melalui banyak proses, yang berawal dari air mani kemudian menjadi
segumpal darah dan berubah menjadi segumpal daging dalam waktu yang sama
ditiupkan roh pula sehingga manusia sangat mulia diangkat oleh Allah derajat
nya yang memiliki akal dan daya cipta menjadikan manusia memiliki jiwa yang
bertanggung jawab. Dengan diberikan-Nya akal dan daya cipta manusia dituntut
untuk menikah dengan lawan jenis nya, agar terhindar dari perbuatan-perbuatan
yang tidak diinginkan, karena Allah sudah menjanjikan bagi yang belum mampu
atau karna belum mempunyai harta Allah akan memberikan petunjuk dan karunia-Nya
karena Allah maha mengetahui dan maha memberi.
DAFTAR
PUSTAKA
Kemenag RI.2010.Syaamil Al-Qur‘an
Miracle The Reference.Bandung.PT.Sygma Publishing
Shihab, M.Quraish.2002.Tafsir
Al-Mishbah Volume 7.Jakarta.Lentera Hati
0 komentar:
Posting Komentar